GOLPUT ATAU ENGGAK YA?

Tahun 2014 datang menjelang, di tahun itu saya akan kembali memilih pemimpin dan wakil saya di dewan. Saya sadar, lima tahun lalu saya memilih pemimpin yang salah, demikian juga wakil-wakil saya di dewan. Mereka tak seperti yang saya harapkan.

PENGAMAT VS JOKOWI

Sebaik apa pun Jokowi, sang Gubernur Jakarta, tetap saja tak bebas kritikan dan hujatan, terutama dari lawan-lawan politiknya. Kalau dari lawan politiknya sih menurut saya wajar kritikan itu terlontar, selain dia bersikap oposisi terhadap Jokowi, dia juga harus mencari-cari segala kelemahan Jokowi.

TAK ADA MANUSIA YANG JAHAT

Sampai sekarang saya masih sangat yakin, manusia itu sebenarnya tak ada yang jahat. Mereka bisa hidup dengan segala kebaikannya. Hanya saja, setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda selama proses kehidupan mereka berlangsung.

ARIEL, DULU DIHUJAT KINI DIPUJA

Saat kasus video mesum Ariel dengan dua seleb wanita lain merebak di seantero Nusantara ini, Ariel pun menjadi bulan-bulanan media. Tak ada media yang tak mem-blow-up berita Ariel. Semua sumber informasi di seputar kehidupan Ariel disorot tajam setajam silet.

RENTENIR ZAMAN ANDROID

Rentenir dari zaman rikiplik memang gak ada matinya, gimana mau mati wong dari bisnis pinjaman uang itu saja bisa buat si rentenir kaya mendadak, uang yang semula cuma 100 bisa jadi 1000, yang tadi 1000 bisa menjadi 10.000, demikian seterusnya.

Friday, September 27, 2013

GENDERANG PERANG PAK AMIEN


Saat ini, siapa saja yang menyinggung nama Jokowi pasti bakal ikut-ikutan cettar. Apalagi kalau nyinggungnya bernada negatif, pasti namanya langsung meroket (lagi). Tadinya sudah dilupakan eh mulai diingat kembali. Saya saja yang tadinya dah lupa tiba-tiba jadi ingat lagi, kayak orang yang baru sadar dari amnesia gitu. "Oh, dia ya, masih ada ya ternyata", begitu kata hati saya. Tapi, kalau sudah begitu siap-siaplah didemo atau dimaki-maki pendukungnya Pak Jokowi.

Itulah yang dialami Pak Amien Rais sekarang, tokoh reformasi yang satu ini kembali menjadi bahan perbincangan di media gara-gara menyinggung nama Jokowi ketika memberi kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/9/2013) kemarin. Dalam kuliahnya itu, Pak Amien menyamakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dengan mantan Presiden Filipina Joseph Estrada. Kesamaan mereka kata Pak Amien, Jokowi dan Joseph dipilih karena populer.

Kalau disamakan dengan tokoh yang bagusnya kayak Soekarno atau Muhammad Hatta yang membumi dan merakyat sih mungkin tak masalah, pasti Pak Amien kebagian simpati dan pujian dari banyak orang. Entah mimpi apa Pak Amien kemarin malam itu, atau salah makan obat kali ya, dia menyamakan Jokowi dengan Joseph Estrada yang tiap malam katanya suka mabuk. Kata saya, "Ini mah penyetaraan yang tak sebanding, masak Jokowi disamakan dengan pemabuk, yang bener ajah".

Bahkan Pak Amien mengungkapkan, saat dipimpin Jokowi, Solo merupakan salah satu kota termiskin di Jawa Tengah. Jokowi pernah menjadi Wali Kota Solo selama hampir dua periode, sebelum memutuskan bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. "Daerahnya masih banyak yang kumuh, hanya Slamet Riyadi saja yang bagus. Tapi, Jokowi malah dinobatkan sebagai wali kota nomor tiga terbaik di muka bumi, mungkin hanya karena popularitas," ujarnya. Pernyataan "pedas" Amien Rais soal Jokowi bukan kali ini saja. Sebelumnya, ia mempertanyakan nasionalisme Jokowi, demikian yang saya kutip dari Kompas.com (25/9/2013).

Baca berita itu sama saja Pak Amien memukul genderang perangnya dengan Jokowi, terutama dengan pendukung-pendukung dan simpatisannya. Mungkin Jokowi tak ambil pusing dengan pernyataan Pak Amien tersebut, buktinya dia cuma menanggapinya seperti ini, "Saya heran, dulu ada yang bilang saya orang ndeso, sekarang ada yang bilang saya mirip Estrada yang presiden artis. Lah, yang benar yang mana?", ujar Jokowi saat menghadiri hari lahir ke-9 Wahid Institute di Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2013) siang (Kompas.com, 26/9/2013).

Tanggapan yang cerdas menurut saya tanpa harus menyudutkan Pak Amien, apalagi sampai marah-marah atau menuding-nuding beliau. Malah, kritikan tajam Pak Amien itu membuat popularitas Jokowi makin meroket. Apapun kata Pak Amien soal Jokowi, orang bakal tak peduli. Menurut saya, alangkah bagusnya kalau kritikan itu dialamatkan kepada pemerintah, mungkin bakal banyak menuai simpati. Rakyat juga tahu, mana pendapat atau kritikan omong kosong dan asal cuap, mana yang tidak. Apapun kata Pak Amien, dukungan rakyat terhadap Jokowi tak pudar, malah (meminjam istilah Syahrini) makin cettar membahana, terpampang badai. Seharusnya Pak Amien menyadari hal itu. Ibarat kata pepatah, kritikan Pak Amien seperti senjata makan tuan, bukannya pujian yang didapat, malah cibiran yang dituai, kasihan.

Tuesday, August 20, 2013

CAPRES-CAPRES PINGGIR JALAN

Biasanya, kalau menjelang pemilu, di jalan-jalan raya pasti selalu dipenuhi spanduk-spanduk hingga baliho para calon wakil rakyat dan calon presiden. Seperti di jalan raya yang biasa saya lalui sepanjang pergi dan pulang kantor dari Depok ke Ciawi. Ada baliho dua capres yang saya temukan. Tapi entah kenapa, baliho-baliho segede Gaban itu tak membuat saya tertarik, membacanya pun saya malas. Tanpa melirik pun saya sudah tahu apa isi baliho itu. Secara estetika tak ada indahnya pula baliho-baliho itu, malah foto close-up mereka merusak mata saya, silau dengan senyum palsu mereka. 

Sederetan gigi putih dari senyum mereka berasa taring yang siap menggigit dan menghisap darah saya hingga kering. Semua yang indah-indah pun jadi ketutupan baliho-baliho tadi. Gedung indah di baliknya pun tak bisa dinikmati. Gunung yang menjulang pun ikut-ikut ketutupan. Yang ada malah membuat saya jengkel, apalagi yang mereka jual kecap semua. 

Calon-calon presiden itu menganggap dirinya yang terbaik, terpuji, dan paling oke di antara yang lainnya. Pokoknya, merekalah kecap nomor 1. Mereka begitu percaya diri bakal dipilih rakyat. Lucunya, wajah kaku pun dipaksa lembut biar kelihatan manis dan klimis. Padahal, amit-amit deh. Sebenarnya, kalau saja mereka yang didamba rakyat, mereka tak perlu buang-buang uang untuk membuat baliho yang tak penting itu. Selain harganya mahal, tak ada efeknya juga bagi masyarakat yang melihatnya. Rekam jejak mereka di masa lalu sudah melekat dalam otak masyarakat, they know the candidates so well.

Dan entah benar atau tidak, dan cuma mengaku-ngaku saja, semuanya meng-klaim dekat dengan rakyat, bekerja untuk rakyat, dan berkorban demi rakyat. Janji pun diumbar dan diobral demi menarik simpati rakyat. Tapi, jangan harap janji itu akan dipenuhi bila mereka sudah sukses jadi orang nomor satu di negeri ini. Jangankan memenuhi janji-janjinya, mendekati rakyat pun ogah. Itulah mereka, saya menyebut mereka capres-capres pinggir jalan karena masih sebatas promo di pinggir jalan hehehe. 

Yang buat saya tertawa miris ketika melihat capres yang track record masa lalunya sudah ketahuan jeleknya. Dia begitu percaya diri menampilkan sisi terbaiknya, yang sudah jelas-jelas palsu semua. Wong ngurusin lumpur saja gak becus gimana mau ngurusin rakyat, impossible itu. Apalagi kalau mereka sudah menunjukkan sisi egaliternya di tengah rakyat yang kelihatan dipaksakan, pasti saya langsung tertawa terbahak-bahak. Bagi saya, sikap egaliter yang wajar itu cuma ditunjukkan oleh Soekarno, Bung Hatta, dan Jenderal Soedirman. 

Saya pun jadi malu sendiri melihat mereka. Sepanjang jalan yang saya lalui pasti menemukan baliho-baliho mereka, yang menurut saya benar-benar tak menarik. Apalagi baca slogan-slogan mereka yang benar-benar impossible. Mereka yakin benar kalau mereka jadi pemimpin bakal membuat Indonesia ini maju dan makmur, tapi mereka tak berani berjanji membuat Indonesia ini bebas korupsi. Apapun yang mereka tampilkan, bukannya membuat saya tertarik malah buat saya ingin mengeluarkan isi perut ini semua. Gak kebayang memang kalau mereka berhasil jadi presiden selanjutnya, Indonesia bakal semakin jauh dari kata 'Makmur'.

Friday, July 26, 2013

HEBOH SKANDAL SEKS DI PENJARA

Ternyata, penjara memang tak buat efek jera bagi para kriminal, itu cuma terjadi di Indonesia, entah di negara lainnya. Tadi saya baru baca berita di vivanews.com tentang skandal seks dan narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Cipinang. Beritanya heboh sampai luar negeri sana, laman online The Australian mengangkat judul, 'Model, drugs and sex scandal at Cipinang rocks Indonesian prison system' di edisi Jumat 26 Juli 2013. Selain The Australian, skandal itu juga diberitakan news.com.au dengan judul "Model Vanny Rossyane claims having drug and sex sessions at Indonesia's Cipinang jail". Media asal Malaysia, Straits Times tak mau kalah juga, dia mengangkat isu ini dengan judul berita, 'Indonesia prison system rocked by drug, sex scandal'. Mereka juga menyebut Indonesia sebagai negara yang terkenal dengan sistem penjaranya korup, memalukan memang!

Berita itu memang bukan isapan jempol, tapi dari hasil pengakuan jujur seorang model majalah dewasa, Vanny Rossyan. Dia mengaku berhubungan seks dan memakai narkoba bersama kekasihnya yang juga gembong narkoba internasional di ruangan khusus di Lapas Cipinang selama 2012. Wuih, ternyata kehidupan lapas memang bisa diatur, mau enak tinggal bayar, yang penting ada duit. Selama duit masih bisa buat hijau mata orang, apapun bisa dilakukan, termasuk membeli idealisme seseorang. Hebatnya lagi, ada ruang khusus di lapas itu yang biasa Vanny pakai bersama sang bandar untuk memakai narkoba dan berhubungan seks. Vanny yang tanpa rasa bersalah juga mengungkapkan bahwa dia biasa mengunjungi kekasihnya di Cipinang, tiga kali seminggu dari jam 11 siang sampai jam 5 sore, dan ML (bercinta). Ada dua ruangan yang mereka gunakan untuk bercinta.

Kementerian Hukum dan HAM pun seperti kebakaran jenggot, entah memang tidak tahu atau pura-pura tak tahu, entahlah, hanya Tuhan-lah yang tahu. Untuk mengembalikan harkat dan martabat kementerian itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Cipinang, Thurman Hutapea dicopot, Kamis 25 Juli 2013, karena diduga kuat melakukan penyimpangan. Kalau saja Vanny tak punya mulut ember, pasti skandal itu akan terus berlanjut hingga anak cucu. Dan sekali lagi, kementerian hukum lagi-lagi kecolongan atas perilaku oknum-oknumnya. Kelihatan memang di kementerian itu kurang pengawasan. Kalau saja pengawasan benar-benar dilakukan pasti hal-hal yang buat malu itu tak terjadi. 

KUALANAMU PUN LAUNCHING

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara launching juga hari ini tanggal 25 Juli mulai pukul 00.01 WIB. Polonia pun ditutup setelah lewat tengah malam itu. Bandara tersebut untuk pertama kalinya dilandasi penerbangan Garuda Indonesia Airlines Boeing GA 0181 dengan jumlah penumpang 110 orang. Sebagai warga Medan, tepatnya mantan warga Medan saya pun ikut merasakan euforia itu. Meski menyaksikannya jauh dari Kualanamu, namun ada hentakan emosional ketika bandara terbesar kedua di Indonesia itu dibuka soft launching oleh Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN. 

Bandara Internasional Kualanamu

Bandara KNIA (Kuala Namu International Airport) pun secara resmi menggunakan kode penerbangan International Air Transport Association (IATA) WIMM dan location indicator KNO. Kode penerbangan IATA WIMM untuk KNIA itu seperti nomor handpone saat mengirimkan pesan singkat. Jadi, kalau ada pesawat yang mengirimkan pesan, maka alamatnya pakai WIMM. Sementara untuk kode penerbangan WIMK dan MES yang selama ini dipakai untuk Bandara Polonia Medan masih diberlakukan. 


Salah satu koridor Bandara Kualanamu
Ruang check in Banadara Kualanamu

Kuala Namu International Airport (KNIA) merupakan bandara tercanggih di Indonesia, terutama dari segi peralatan dan perlengkapan yang dimilikinya. Kualanamu memiliki fasilitas bagasi otomatis yang pertama di Indonesia. Selain memiliki tingkat pendeteksi keamanan tertinggi (level 5) seperti Bandara John F. Kennedy di Amerika Serikat, teknologi ini juga memungkinkan penumpang untuk melakukan pendaftaran bagasi di counter mana pun tanpa takut barangnya tertukar pesawat atau jadwal penerbangan. Bandara ini juga mensinergikan berbagai transportasi umum dari dan menuju bandara, mulai dari taxi, bis, hingga kereta, sehingga memudahkan calon penumpang pesawat menuju bandara tersebut. Fasilitas kereta api ini merupakan yang pertama di Indonesia. Sedang naik-turun penumpang dari dan ke pesawat disediakan garbarata otomatis sehingga penumpang bisa langsung masuk dan keluar pesawat dari ruang keberangkatan dan kedatangan.

Fasilitas garbarata Bandara Kualanamu

Ruang tunggu keberangkatan Bandara Kualanamu
Bandara Kualanamu mampu menampung hingga 8 juta orang penumpang atau hampir 10 kali lipat dari jumlah penumpang maksimal Polonia. Bahkan selanjutnya, Kualanamu didesain bisa mencapai kapasitas maksimal hingga 22,1 juta penumpang per tahun. Dari sisi arsitektur bangunan, Kualanamu tak kalah dengan KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dan Changi di Singapura. Bangunannya indah dan megah dengan luas fisik bandara sekitar 1.365 hektare dan luas terminal 118.930 meter persegi. 

Bandara Kuala Namu memiliki panjang landasan (runway) 3.750 x 60 meter yang mampu dilandasi pesawat berbadan lebar sekelas Boeing tipe B747-400, B777-300ER, dan pesawat super jumbo Airbus A380. Jadi, Bandara Kualanamu menjadi satu-satunya bandara di Indonesia yang mampu mengoperasikan pesawat Airbus A380.

Fasilitas garbarata dan parkir pesawat Bandara Kualanamu

Bandara juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan hotel. Katanya sih, Kualanamu memang digadang untuk menyaingi kedua bandara terbesar dan tersibuk di Asia Tenggara itu. Bahkan, bandara terbesar kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta ini akan menjadi hub penerbangan internasional untuk kawasan regional Asia. Bisa dibayangkan jadinya, betapa sibuknya nanti bandara kebanggaan orang Sumut itu.

So, tunailah sudah janji pemerintah, mempersembahkan Kualanamu untuk warga Sumatera Utara, dan menjadi salah satu bandara kebanggaan di Indonesia, yang siap bersaing dengan bandara papan atas di dunia, congrate .... 

Thursday, July 25, 2013

GOLPUT ATAU ENGGAK YA?

Tahun 2014 datang menjelang, di tahun itu saya akan kembali memilih pemimpin dan wakil saya di dewan. Saya sadar, lima tahun lalu saya memilih pemimpin yang salah, demikian juga wakil-wakil saya di dewan. Mereka tak seperti yang saya harapkan. Sang pemimpin yang saya pilih dengan hati dan segenap jiwa raga itu tak menunjukkan sosok yang saya idamkan. Untuk apa gagah dan kelihatan berwibawa tapi tak bisa membuat saya sebagai rakyat hidup nyaman.

Tengok pula wakil-wakil saya di dewan, setiap membahas soal rakyat, banyak tak hadirnya. Alasannya pun macam-macam, tapi kalau ada acara kunjungan (yang katanya) kerja ke luar negeri, mereka bisa hadir semua. Padahal yang diurusin keluar juga tak penting-penting amat. Belum lagi yang terlibat korupsi, jumlahnya bukan satu dua, tapi tiga empat lima enam kayak gerbong kereta.

Selama lima tahun terakhir ini, saya bisanya cuma ngedumel, ngomel-ngomel sendiri, apalagi melihat koruptor-koruptor yang lenggang-kangkung keluar masuk penjara, malah dapat remisi pula. Mereka cuma dihukum beberapa tahun, tapi aset-aset mereka tetap tak tersentuh, kalaupun disentuh paling cuma seper-berapa dari yang mereka tilep, kayak ngasi uang jajan ke anak gitu. Keluar dari penjara pun mereka tetap bisa hidup mewah, cos harta yang disita tak sebanding dengan hasil korupsinya. Jangan heran ya kalau koruptor bukannya berkurang, eh malah nambah. Hukuman penjara cuma buat pelesiran pahit buat mereka, bukan buat mereka kapok. Toh di penjara juga mereka bisa hidup nyaman, gemah ripah loh jinawi, begitu kata pepatah Jawa. 

Skandal Century juga tak pernah tuntas, aneh bin ajaib memang, padahal oknum-oknum yang terlibat di dalamnya sudah di depan mata, terpampang jelas dan nyata, cettar membahana kata Syahrini. Cuma bisa membayangkan, dana 6,7 triliun buat Century dah bisa bangun rumah rakyat ribuan, atau bisa buat bandara baru sekelas Kualanamu satu lagi. Bangun sekolahan pun bisa ribuan jumlahnya, bangun rumah susun sederhana sampai ribuan tower juga bisa dengan uang segitu. Huuuuuh, cuma itu yang bisa keluar dari mulut.

Puncaknya, pas harga BBM naik, semua harga pun ikut-ikutan naik. Tadinya, saya bisa dapat 11 liter lebih sedikit kalau beli bensin 50-ribu, kini cuma 7 liter lebih sedikit. Naik angkot, ongkosnya naik 30 persen, pake acara macet pula di jalan. Gula pasir melonjak jadi 20-ribu sekilo, daging sapi melambung ke angka 100-ribu per kilo, Jengkol pun melonjak jadi 80-ribu sekilonya. Jangan tanya ya harga cabe merah (mau lurus atau keriting) kompakan naiknya. Harga beras pun sama saja, beli Ramos di supermarket paling murah 57-ribu per 5 kilo, berarti satu kilo sudah di atas sepuluh ribu. Ibu-ibu RT pun minta tambahan belanja sama suami-suaminya, suami-suaminya pun pusing tujuh keliling karena gaji mereka belum naik-naik juga. Kacau dah pokoknya. 

Kemarin ngelirik nilai tukar rupiah terhadap dollar, eh udah 10290, para eksportir teriak kegirangan, importir menjerit-jerit. Kalau negeri ini jumlah eksportirnya lebih banyak, mungkin tak masalah kalau rupiah melorot. Masalahnya, jumlah importir itu lebih banyak ketimbang eksportir. Jadi, siap-siap ajalah kalau harga sandang pangan terus naik, terutama yang bahan bakunya hasil impor. 

Belum lagi dengan BI Rate (suku bunga BI) yang sudah naik menjadi 6,5% sejak 11 Juli yang lalu. Meski tak sebesar tahun 2005 yang mencapai 12,75% namun tetap menyulitkan para debitur. Kalau BI Rate naik itu artinya suku bunga pinjaman bakal naik, tentu ini akan menyulitkan investasi terutama untuk pengusaha kecil yang ingin pinjaman tambahan modal dari suatu bank. Bagi yang masih punya kredit mobil, rumah, atau personal loan terutama pinjaman dengan suku bunga yang tidak flat bersiap-siaplah membayar cicilan yang akan naik sebentar lagi. Beruntunglah orang-orang yang masih bisa menabung di bank, karena suku bunga tabungan, deposito, maupun giro sebentar lagi akan naik pula. Tapi, siapa juga yang bisa menabung besar di tengah inflasi ini?

Kalau sudah begitu, saya pun tak bisa apa-apa, cuma bisa berdoa semoga gaji cepet naiknya. Mikirin 2014 juga masih bingung, bukan bingung sama tahunnya, tapi bingung mau pilih siapa, cos calon-calonnya juga elo lagi elo lagi, gak ada wajah-wajah baru selain Jokowi. Tambah lagi semuanya pakai topeng jadi gak bisa ngeliat aslinya. Pilihan pun cuma satu, golput atau enggak ya?

Wednesday, July 24, 2013

PENGAMAT VS JOKOWI

Sebaik apa pun Jokowi, sang Gubernur Jakarta, tetap saja tak bebas kritikan dan hujatan, terutama dari lawan-lawan politiknya. Kalau dari lawan politiknya sih menurut saya wajar kritikan itu terlontar, selain dia bersikap oposisi terhadap Jokowi, dia juga harus mencari-cari segala kelemahan Jokowi, yang untungnya belum ketemu sampai sekarang hahahaha, kasian deh mereka. 


Kadang saya juga suka heran, mereka itu ngritik Jokowi demi kemajuan atau karena posisi mereka di mata masyarakat terancam, apalagi Jokowi lagi naik daun sebagai capres 2014 yang paling diinginkan masyarakat Indonesia (menurut survey). Kocaknya lagi, kritikan itu suka mengada-ngada, katanya blusukan Jokowi dibilang pencitraan, buang-buang duit, emang mereka gak lihat apa blusukan Jokowi itu tulus atau enggak, spontan atau gak, lebay atau gak. Ketimbang pasang iklan di tipi, sok-sokan egaliter di masyarakat, tapi lebaynya minta ampun, untuk apa.

Seperti kata pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu, biar bagaimanapun blusukan Jokowi menjangkiti hampir semua pejabat negeri ini, terutama yang ingin maju lagi jadi capres. Tiba-tiba saja mereka rajin blusukan ke daerah-daerah, merhatiin rakyat jelata dan orang-orang kampung yang selama ini tak terjamah oleh mereka. Tapi tetap saja kelihatan drama queen-nya, yang namanya sifat egaliter itu memang gak bisa kok dikelabui dari diri seseorang.

Yang lebih aneh lagi, beberapa waktu lalu saya baca di sebuah koran online, katanya dana atau anggaran blusukan Jokowi itu per harinya bisa sampai puluhan juta, dan sebulan bisa milyaran rupiah. Baca itu, saya cuma bisa bilang, "Goblok bener yang buat laporan itu". Dia gak tau memangnya kalau setiap pejabat tinggi di negeri ini punya anggaran operasional buat menunjang tugas-tugas mereka. 

Biar beritanya gak simpang siur Jokowi pun buat statement. Kata Jokowi, "Blusukan ga ada anggarannya, blusukan modalnya hanya jalan kaki aja, sudah. Masak pakai modal. Blusukan itu kan cuma jalan kaki. Ini fungsi dari management control." Menurut Jokowi lagi, alokasi anggaran Rp 26,6 miliar yang ramai diperbincangkan itu adalah dana operasional. Dana operasional itu digunakan untuk koordinasi keamanan, ketertiban sosial, dan operasional khusus. "Contohnya, misalnya ada kebakaran, tapi saya ga pernah pegang dana itu. Dan kalau memang dipakai, itu juga tidak habis, paling separuh juga tidak," ujar Jokowi. "Dana itu untuk tujuan khusus, seperti gesekan antarwarga, itu kan perlu dana yang cepat," imbuhnya. (sumber: Merdeka).

Kalau dibanding dengan gubernur sebelumnya, dana operasional tersebut mereka gunakan untuk apa ya? Apa pernah diaudit atau apa ada yang pernah meributkan. Selama ini sih belum ada kabar yang berhembus, apa itu digunakan untuk rakyat, atau cuma dipakai buat maen golf, makan-makan di restoran mahal, atau buat pelesiran saja, siapa juga yang bisa menebak, toh mereka juga gak blusukan kayak Jokowi dan Ahok wakilnya.

Tapi yang buat miris, ada nih pendapat dari seorang pakar, profesor lagi, katanya Jakarta sejak dipimpin Jokowi malah makin gak bener, makin macet, titik banjir makin meluas, dan kinerja Jokowi berantakan. Pendapat ini yang buat saya terpingkal-pingkal seperti nonton lawakan Warkop atau Srimulat di atas panggung. 

Logika sang pakar seharusnya lebih canggih, Jokowi itu baru memimpin Jakarta, belum setahun, sedang permasalahan Jakarta mulai dari macet, banjir, dan masalah transportasi sudah ada sejak Jokowi belum jadi apa-apa. Bagaimana mungkin semua masalah Jakarta itu dibebankan ke Jokowi semua, ditumplek blek ke punggung dia semua, wuaneh itu rek. 

Tapi sutralah eh sudahlah, namanya juga orang bebas berpendapat, kebenaran itu mah cuma milik Tuhan, manusia cuma cari pembenaran. Saya menulis ini juga bukan pengen bela Jokowi atau pengen diangkat jadi temennya Jokowi, "Nei nei nei", kata saya. Dagelan politik di Indonesia ini makin lucu, selucu Mr. Bean ketika bertemu Ratu Inggris di Buckingham Palace, hihihi.

Saturday, July 20, 2013

ANOMALI MACET JAKARTA

Macet Jakarta itu memang aneh, dan susah ditebak. Sangking anehnya, saya pun menyebutnya dengan anomali macet. Jadi, tak hanya air yang mempunyai anomali, macet Jakarta juga punya. Gimana gak aneh, saat terjebak kemacetan, jalanan itu seperti parkiran terpanjang, mobil-mobil stuck tak bisa bergerak, ketika sampai di depan, saya pun tak melihat penyebab kemacetan itu. Mending kalau saya menemukan truk yang mogok, melintangi jalan, atau terjadi kecelakaan di jalan yang saya lalui, atau ada perbaikan jalan raya di satu jalur. Namun, tak ada satu pun penyebab macet yang saya sebutkan tadi terjadi. 


Lebih aneh lagi, macet Jakarta tak bisa diberantas. Padahal sudah jelas, macet Jakarta itu lebih disebabkan karena pertumbuhan volume kendaraan tak sebanding dengan pertumbuhan jalan. Selain itu, transportasi umum di Jakarta itu paling buruk sehingga tak mampu menarik perhatian para orang kaya Jakarta untuk berpindah moda dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Orang-orang kaya itu juga tak bisa disalahkan sepenuhnya. Sebagai orang-orang yang terbiasa hidup nyaman dan punya gengsi, mereka hanya ingin menaiki kendaraan umum yang nyaman dan aman. Nyaman di sini jelas indikatornya, kendaraan umum itu harus bersih, harum, menarik, dan sejuk, seperti kendaraan umum di negara-negara maju itulah, kayak di Jepang, Jerman, atau di Inggris dan Perancis.

Namun, ada lagi satu keanehan yang menurut saya benar-benar anomali. Beberapa waktu lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil murah yang ramah lingkungan, bahkan katanya mobil city car seharga 40juta-an bakal ada di pasaran. Gila, jalanan raya Jakarta akan makin tumpah ruah dengan mobil-mobil pribadi, dan otomatis jalanan jakarta akan makin tumpat dengan segala jenis kendaraan, macet pun makin menghadang, bisa-bisa stuck di jalan tak bisa bergerak.

Kebijakan mobil murah tak dibarengi dengan perbaikan transportasi umum yang baik dan bisa mendorong orang untuk ogah naik kendaraan pribadi. Meski katanya monorail dan MRT sudah akan dibangun namun saya yakin transportasi massal yang diagungkan itu tak bakal bisa memberantas macet Jakarta secara tuntas. Di satu sisi pemerintah membiarkan produsen mobil memproduksi mobil sebanyak-banyaknya, di sisi lain pemerintah setengah hati menyediakan tranportasi yang benar-benar baik, padahal katanya mereka sangat berniat memberantas kemacetan Jakarta. 

Hal-hal yang serba kontradiktif itulah yang buat saya merasa aneh, seperti rokok, meski sudah jelas merusak kesehatan tapi produksi rokok terus tumbuh setiap tahunnya, dan pemerintah mendukung hal itu demi pemasukan pajak dan penyediaan lapangan pekerjaan meski harus mengorbankan kesehatan masyarakat lainnya. Ibarat kata pepatah, ada tikus di lumbung padi, lumbung padinya yang dibakar. Aneh memang, seaneh macet Jakarta, meski penyebabnya sudah diketahui, tapi susah diatasi.

Friday, July 19, 2013

RENTENIR ZAMAN ANDROID

Rentenir dari zaman rikiplik memang gak ada matinya, gimana mau mati wong dari bisnis pinjaman uang itu saja bisa buat si rentenir kaya mendadak, uang yang semula cuma 100 bisa jadi 1000, yang tadi 1000 bisa menjadi 10.000, demikian seterusnya. Dalam bisnis rentenir, jangan pernah ngomongin soal dosa, jauh itu, dan tak pernah terpikir dalam otak mereka kalau membungakan uang itu haram hukumnya. Yang penting, bagaimana bisa cepat kaya walau harus memiskinkan orang lain.

Rentenir di zaman Android ini lebih heboh lagi, hebring deh pokoknya, dan lebih profesional lagi. Sistem yang mereka gunakan pun canggih, apalagi di era teknologi informasi dan komunikasi ini. Wujud mereka itu sangat dikenal dengan nama kartu kredit. Bagi saya, kartu kredit itu tak ubahnya seperti rentenir yang berkembang pesat di zaman Android ini. Dan saya pun sudah menjadi korbannya. Kenapa saya sebut "korban"?, ini die ceritanye kata orang Betawi.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat telepon dari tukang tagih sebuah bank terkemuka di Indonesia. Tukang tagih bank itu menagih hutang kartu kredit gold saya yang sudah mencapai 125juta lebih, fantastis bukan! Padahal setahu saya, tagihan terakhir sekitar tiga tahun lalu masih sebesar 8juta-an rupiah. Bukannya saya tak mau bayar, cuma waktu itu saya lagi kesulitan sehingga tagihan tak terbayar sebagaimana mestinya. 

Pengajuan keringanan sudah diajukan, dan persyaratan pembayaran tagihan sebesar 10 persen dari tagihan seperti yang dipersyaratkan dalam pengajuan keringanan sudah dilakukan sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi dasar si kolektor mau cari untung, katanya pengajuan keringanan saya terlambat diproses, padahal saya sudah mengajukannya sesuai tepat waktu, seperti yang diminta kolektor. Saya diharuskan mengajukan permintaan keringanan kembali mulai dari awal dan diharuskan membayar tagihan sebesar 10 persen lagi. Tentu saja saya keberatan, karena itu bukan kesalahan saya. Alasan mereka pun tak masuk di akal, seperti dicari-cari. Kata mereka, berkas saya terselip di antara berkas lain dan surat kelengkapan berkas yang saya fax ke mereka nyelip entah kemana, bersama surat fax lainnya, tak profesional memang. 

Akhirnya, karena tak ada dana yang tersedia untuk membayar kembali, pembayaran saya pun macet. Saya pikir pun bank tersebut juga tak rugi, toh saya sudah membayar tagihan-tagihan saya sebelumnya dengan tertib, beserta bunga pinjamannya, yang kalau ditotal sudah melebihi jumlah hutang pokok saya. Lagian selama ini saya juga mengikuti credit shield protection, semacam premi asuransi yang kegunaannya untuk membayar tagihan atau hutang saya jika terjadi gagal bayar. Dan biasanya sih memang itu yang dilakukan oleh bank.

Sejak itu, semua tagihan yang dilakukan kolektor saya cuekin, cuek beibeh gitu. Makian dan hinaan sudah puas saya terima. Lama-lama mereka juga akan bosan menagih. Benar juga dugaan saya, selama setahun saya tak mendapat kabar dari mereka lagi, billing statement juga sudah tak saya terima, gangguan kolektor juga sudah tak ada, saya pikir saya sudah aman. Ternyata pikiran saya meleset, memasuki tahun kedua, tagihan mereka datang lagi lewat telepon. Saya cuekin lagi, reda selama setahun, memasuki tahun ketiga, datang lagi tagihan mereka lewat telepon, katanya tunggakan saya sudah mencapai 125juta tadi dalam jangka waktu tiga tahun.

Mendengar angka fantastis itu kaget juga, dan kemudian tertawa, saya langsung tanya ke mereka, "Angka darimana itu, kok bisa sebanyak itu". Mereka cuma bilang kalau tunggakan saya sudah bunga berbunga, demikian sistem kartu kredit kalau tak dibayar-bayar. Saya tanya lagi, "Kok nagihnya baru sekarang, setelah bertahun-tahun". Kata mereka, " Bapak sulit dihubungi, hape tak diangkat-angkat, telepon ke kantor tak pernah ada". Saya katakan lagi, "Kan bisa lewat surat, sms, atau lewat email, kok itu tak dilakukan". "Mana billing statement saya, saya tak menerimanya selama bertahun-tahun", lanjut saya lagi. "Pokoknya, Bapak harus bayar!", kata mereka. "Tapi, Bapak tak usah khawatir, kami akan kasih keringanan, tagihan Bapak kami kasi diskon jadi 25juta", lanjut mereka lagi. 

Saya langsung jawab lagi, "Mas, menurut peraturan Bank Indonesia, tagihan bunga berbunga sudah tak diperkenankan lagi (sambil menyebutkan beberapa pasal BI), debitur juga wajib dikirimin billing statement, berarti kalian sudah melanggar aturan BI dong". Seperti biasa, mereka tetap saja ngotot kalau saya harus bayar. Akhirnya, saya mengajukan permintaan pada mereka, "Sekarang gini aja deh, saya minta rincian tagihan saya secara tertulis sejak awal penggunaan kartu hingga tagihan saya bisa mencapai angka fantastis itu". Anehnya, mereka tak mau memenuhi permintaan saya itu. 

Dan lebih aneh lagi, ketika saya cek ID HISTORY saya di Bank Indonesia, kredit macet saya untuk bank tersebut tidak ada. Dengan kata lain, saya sebenarnya sudah tak ada masalah lagi dengan bank bersangkutan. Secara logika, kalau saya sudah menunggak hutang sampai sebesar ratusan juta, tentu nama saya akan tercantum dalam daftar hitam Bank Indonesia, ini tidak, ANEH KAN!

Saya pun mencari informasi lewat paman Google tentang kasus yang menimpa saya ini. Akhirnya ketemu juga informasi yang pas. Dalam artikel itu disebutkan, kalau Anda menunggak kartu kredit atau personal loan jangan khawatir tak bisa bayar karena tunggakan Anda itu sudah dibayarkan oleh asuransi Visa atau Master card atas klaim dari bank yang bersangkutan. Pihak bank juga tak mau ambil risiko kalau terjadi kredit macet atas banyak debitur. Bank juga tidak bodoh untuk mau menggelontorkan uangnya dalam jumlah besar dengan begitu mudahnya. Kalaupun Anda tetap ditagih, itu karena ulah oknum-oknum bank, yang bekerja sama dengan perusahaan debt collector yang ingin meraih keuntungan dari para debitur yang macet. Surat hutang Anda diperjualbelikan oleh oknum-oknum tersebut pada perusahaan-perusahaan kolektor demi keuntungan pribadi mereka. Entah benar atau salah informasi tersebut, tapi saya tetap meyakininya "ada benarnya juga". 

Dan sampai sekarang, adakalanya mereka menagih, namun tak rutin, bisa sekali seminggu, sekali sebulan, sekali enam bulan, atau sekali setahun. Sepertinya mereka untung-untungan begitu, dapat syukur tak dapat lanjutkan lagi, menunggu kelemahan saya, hingga saya menyerah pada keinginan mereka.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More