GOLPUT ATAU ENGGAK YA?

Tahun 2014 datang menjelang, di tahun itu saya akan kembali memilih pemimpin dan wakil saya di dewan. Saya sadar, lima tahun lalu saya memilih pemimpin yang salah, demikian juga wakil-wakil saya di dewan. Mereka tak seperti yang saya harapkan.

PENGAMAT VS JOKOWI

Sebaik apa pun Jokowi, sang Gubernur Jakarta, tetap saja tak bebas kritikan dan hujatan, terutama dari lawan-lawan politiknya. Kalau dari lawan politiknya sih menurut saya wajar kritikan itu terlontar, selain dia bersikap oposisi terhadap Jokowi, dia juga harus mencari-cari segala kelemahan Jokowi.

TAK ADA MANUSIA YANG JAHAT

Sampai sekarang saya masih sangat yakin, manusia itu sebenarnya tak ada yang jahat. Mereka bisa hidup dengan segala kebaikannya. Hanya saja, setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda selama proses kehidupan mereka berlangsung.

ARIEL, DULU DIHUJAT KINI DIPUJA

Saat kasus video mesum Ariel dengan dua seleb wanita lain merebak di seantero Nusantara ini, Ariel pun menjadi bulan-bulanan media. Tak ada media yang tak mem-blow-up berita Ariel. Semua sumber informasi di seputar kehidupan Ariel disorot tajam setajam silet.

RENTENIR ZAMAN ANDROID

Rentenir dari zaman rikiplik memang gak ada matinya, gimana mau mati wong dari bisnis pinjaman uang itu saja bisa buat si rentenir kaya mendadak, uang yang semula cuma 100 bisa jadi 1000, yang tadi 1000 bisa menjadi 10.000, demikian seterusnya.

Showing posts with label gender. Show all posts
Showing posts with label gender. Show all posts

Friday, April 30, 2010

ESENSI KECANTIKAN

Julia Roberts kembali dinobatkan menjadi The Most Beautiful Person dalam versi People magazine. Sudah empat kali dia menempati posisi top untuk kategori itu. Aku pikir Julia tak hanya cantik dalam artian fisik, mungkin semua laki-laki di jagad ini pasti sepakat dengan pendapat itu, tapi juga cantik dalam artian lain. Disebut cantik itu tak hanya cantik di wajah, tapi juga cantik dalam hal tanggung jawab dan dedikasi.


Julia masih tetap secantik dulu, dia lebih fokus pada keluarga dan lebih suka menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Bagi Julia, keluarga adalah tempat dia bernafas dan dia selalu bersyukur setiap hari karena memiliki sebuah keluarga. Keluarga dan anak-anaknya adalah dunianya. Bahkan dia pernah menolak datang ke pesta Oscar demi keluarganya tersebut. Julia lebih senang menghabiskan malam yang nyaman bersama ketiga anak dan suaminya, Danny Moder.

"Saat suamiku bepergian, yang terbaik bagiku adalah berada di rumah bersama keluargaku. Itu merupakan prioritasku. Kehidupanku di rumah memberikan kegembiraan sejati." demikian kata Julia dalam suatu wawancara dengan sebuah majalah.

Menurutku inilah esensi kecantikan wanita dalam arti sebenarnya. Cantik itu tak hanya rupa tapi juga hati dan pikiran. Tak semua wanita atau perempuan bisa bersikap seperti Julia. Meski berwajah cantik namun adakalanya sikap dan perilaku mereka tak mencerminkan kecantikan itu.





Saturday, April 24, 2010

EMPAT WANITA BERPENGARUH DALAM HIDUPKU

Selama hidup yang kujalani hampir 40 tahun ini ada empat wanita yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Mereka membentuk alur dan cara berpikirku tentang hidup hingga tak picik memandang dunia, terutama dunia perempuan. Dan berkat mereka, aku begitu menghormati dan tak memandang remeh kaum perempuan. Kekuatan mereka sama kuatnya seperti kaum laki-laki, dan aku berusaha memahami perasaan mereka meski terkadang kekhilafan tak alpa menerpaku, hingga pernah menyinggung perasaan mereka. Ego laki-laki tak 100 persen hilang dalam diriku, namun paling tidak, ego itu tak menjajah pikiran dan sikapku, I'm only human being.

Perempuan pertama adalah nenekku, beliau melahirkan ibuku dengan penuh perjuangan. Beliau dijuluki Nenek Cantik, bukan semata karena wajahnya yang cantik tapi kelakuan dan perjuangannya menjalani hidup pun sangat cantik. Demi membesarkan dan menghidupi anak-anaknya yang berjumlah selusin lebih, beliau rela membanting tulang membantu sang suami, kakekku, yang tak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Nenekku berdagang apa saja hingga jauh sampai ke negeri seberang, Malaka. Beliau buta huruf dan tak mengenal angka. Ia menghapal nilai mata uang dari warna, gambar, dan bentuk uang tersebut, dan ingatan beliau cukup diacungi jempol.

Ada banyak kisah yang menemani perjalanan hidupnya, dan semuanya cukup menarik untuk diceritakan kembali, terutama untuk pelajaran hidup. Kisah nenekku pernah dimuat dalam sebuah majalah terkenal sekitar tahun 1983. Nenekku begitu tegas terhadap anak-anaknya, namun penuh kebijakan dan kebajikan hingga anak-anaknya sangat menghormati dan mengagumi beliau. Meski nenekku selalu bepergian ke luar rumah untuk mencari nafkah namun beliau tak melupakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Sebelum pergi, nenekku selalu menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya, demikian yang pernah kudengar dari sepenggal cerita tentang dia. Perjuangan nenekku tak sia-sia, anak-anaknya, terutama yang laki-laki banyak yang menjadi 'orang' dan memiliki kehidupan yang bercukupan. Sayangnya, nenekku tak bisa menikmati keberhasilan anak-anaknya tersebut, beliau keburu dipanggil Tuhan ketika usiaku 11 tahun, kanker paru-paru menggerogoti tubuhnya.

Perempuan kedua adalah ibuku. Ternyata nasib yang pernah dialami nenekku, juga dialami ibuku. Mereka hidup bersama laki-laki yang tak mampu memberi mereka kenikmatan materi yang berlebih, semua serba kekurangan hingga akhirnya mereka mengambil tanggung jawab suaminya. Aku tak mempersalahkan kakek dan bapakku, mereka hanya laki-laki yang tak mau tergoda dengan kekayaan duniawi, mereka cuma ingin berada di jalur yang benar, tanpa korupsi dan kebohongan, apalagi demi mendapatkan uang yang berlimpah.

Ibuku seorang yang tangguh seperti halnya nenekku. Beliau rela mengayuh sepeda hingga berpuluh-puluh kilometer demi mendapatkan uang, berpanas-panas di tengah terik matahari demi hidup dan pendidikan anak-anaknya, hingga penyakit lever pernah menyerangnya. Semua dilakoninya dengan hati yang sabar dan ikhlas. Sebelum berangkat keluar rumah, ibuku juga selalu menyiapkan makanan untuk anak-anak dan suaminya di atas meja. Pokoknya urusan rumah tangga diberesi dahulu sebelum keluar rumah.

Banyak petuah hidup yang disampaikan ibuku terhadap anak-anaknya, dan tanpa disampaikan pun aku bisa menginterpretasikan sendiri semua gerak-gerik dan sikap ibuku. Kemampuan berpikir ibuku jauh di atas rata-rata, beliau perempuan cerdas meski tak pernah mengecap sekolah tinggi. Kemampuan verbal ibuku pun layak diacungi jempol, two thumbs to my mom. Beliau tak hanya bisa memengaruhi orang, tapi juga bisa membawanya ke tengah orang-orang berkuasa di daerah. Meski tak punya jabatan penting, namun ibuku cukup dianggap penting oleh para penguasa daerah tersebut, mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kotamadya, hingga Provinsi, terutama untuk mendekati masyarakat kecil. Ibuku seorang organisatoris ulung tapi tak pernah melupakan keluarganya.

Perempuan ketiga adalah adik ibuku, seorang wanita penulis yang tegas dan tak pernah mau diperbudak oleh materi. Seandainya mau, ia bisa mendapatkan itu semua dengan mudah. Aku sangat salut dengan perempuan yang satu ini, cara berpikir dan wawasannya buat aku terkagum-kagum. Tak heran kalau beliau bisa masuk jajaran sastrawan Indonesia walau tak seterkenal Taufik Ismail, Gunawan Muhammad, Hamsad Rangkuti, ataupun almarhum Rendra, karena bukan itu yang dia cari. Keterkenalan malah akan membuat orang jadi sombong dan pongah, yang penting kualitas yang ada dalam pikiran, bukan apa yang dilihat orang.

Kemampuan verbalnya juga layak diacungi jempol. Aku ingatkan, jangan coba-coba beradu argumen dengannya kalau tak siap dengan segudang wawasan dan pengetahuan. Adik perempuan ibuku ini bagai perpustakaan berjalan, semua pengetahuan ada di benak beliau. Kegilaannya membaca buku sudah ia lakoni sejak kecil. Tanyakan padanya tentang politik, budaya, dan sastra, ia akan menjawabnya dengan lugas dan gamblang. Lagi-lagi, andaikan ia bisa mengecap pendidikan yang lebih tinggi, ia sudah bergelar guru besar di bidangnya, bersanding dengan teman-temannya seperti Profesor Riris Sarumpaet atau Profesor Melani Budianta. Aku banyak belajar tentang kebajikan padanya dan kiat-kiat menjalani hidup dan pergaulan. Meski aku tak setuju 100% dengan beberapa petuahnya, namun kalau dipikir lebih dalam lagi ada benarnya juga.

Adik perempuan ibuku ini juga tipe wanita mandiri yang tak tergantung dengan laki-laki. Suaminya seorang pelukis terkenal, yang kualitas lukisannya bisa disejajarkan dengan Affandi, Hendra Gunawan, ataupun Basuki Abdullah. Mereka tak pernah mengejar materi, hidup mereka jalani dengan sederhana, tak neko-neko, yang penting semua rezeki didapat dengan cara halal. Tinggal beberapa tahun bersama mereka buat aku jadi tahu diri dan sadar kalau aku bukan apa-apa dibanding mereka. Tanpa mereka aku tak akan pernah menjadi yang sekarang.

Perempuan keempat dan terakhir adalah istriku. Ia juga tipe perempuan mandiri, tak pernah tergantung dengan laki-laki, semua ia lakukan sendiri. Ia tak pernah merengek-rengek seperti perempuan manja lainnya. Hidup bersamaku ia jalani dengan apa adanya, tak banyak tuntutan hingga aku lebih tenang menjalani hidup dan tugas keluarga. Istriku juga seorang yang soleh, bertanggung jawab terhadap suami dan anaknya. Keletihannya keletihanku juga, ia harus bekerja di luar rumah sebagai tenaga pengajar di dua perguruan tinggi di Jakarta. Ini ia lakoni karena kebelum-mampuanku memenuhi kebutuhan keluargaku dengan maksimal. Apakah ini karmaku, aku tak tahu.

Seperti ketiga perempuan di atas, kecerdasan istriku juga bisa diacungi jempol, semua di atas rata-rata. Di lingkungan kerjanya ia sangat dicintai teman-teman seprofesinya, terutama para mahasiswanya. Setiap pengajaran dimulai ia selalu berdoa semoga ilmu yang ia ajarkan melekat dalam otak anak-anak didiknya. Ternyata kebiasaan ini cukup bertuah, khususnya bagi para mahasiswa tersebut. Di kalangan mahasiswanya ia cukup terkenal dan dicintai. Namun sebagai manusia, ia juga masih banyak belajar terutama tentang kebajikan dan kearifan, meski menurutku sudah cukup.

Sebagai cucu, anak, ponakan, dan suami, aku minta maaf pada keempat perempuan di atas, karena aku belum mampu membahagiakan mereka dengan limpahan materi dan kesenangan jiwa yang cukup. Semua masih dalam proses, meski aku tak tahu proses itu sampai di mana batasnya. Aku masih butuh doa dan dukungan mereka. Kepada Allah aku mohon ampun atas semua ini, semoga rahmat dan ridho-Nya masih mengalir dalam keluarga ini, Amin.

Tuesday, June 16, 2009

Memang Benar Perempuan Dijajah Laki-Laki

Pernyataan di atas memang benar adanya, perempuan masih dianggap kaum lemah bagi kalangan pria umumnya, meski feminisme merajalela, tetap saja perempuan dijajah laki-laki. Pemahaman dijajah ini bisa bermakna macam-macam, tergantung dari sudut mana dipahaminya. Jajah dalam KBBI bisa diartikan menguasai dan memerintah. Dalam arti ini, perempuan memang dikuasai laki-laki, bahkan diperintah laki-laki. Lihatlah jumlah anggota DPR-MPR sekarang, meski kuota perempuan di lembaga itu ditambah, tetap saja jumlah laki-laki lebih banyak. Walau perempuan menjadi pemimpin suatu bangsa atau negeri, tetap saja dia dikelilingi kaum laki-laki, yang dapat memengaruhi keputusan dan kebijakannya.

Hal ini berarti apa? Kaum laki-laki masih belum rela dikuasai oleh perempuan, meski di antara mereka banyak yang mendukung feminisme. Kaum laki-laki tetap beranggapan kalau perempuan lebih ideal berada di rumah, mengurus anak, rumah, masak di dapur, dan melayani suami dengan baik.

Yakinlah, jika kaum laki-laki ditanya hati nuraninya, 99,99% pasti mendukung dan menginginkan peran ideal perempuan semacam itu. Kalau disurvey, kasus keretakan rumah tangga, konflik di rumah tangga, hingga kekerasan di rumah tangga, lebih banyak terjadi pada pasangan suami-istri yang istrinya turut membanting tulang di luar rumah. Pandangan ini pasti menimbulkan polemik, karena dianggap terlalu tradisional dan konservatif. Namun kenyataanlah yang telah membuktikannya. Sayangnya, pada masa ini, perempuan tak bisa dikekang oleh kaum laki-laki, karena tuntutan ekonomi dan kebutuhan, banyak perempuan yang dilepas oleh suami untuk bekerja di luar, meski hati kecil mereka tak rela. Di luar sana, tetap saja sang istri berhadapan dengan "monster" yang bernama "laki-laki", dia tetap dikuasai kaum laki-laki, atasan mereka laki-laki, jika perempuan, tetap saja di rumah sebagai pendamping laki-laki yang bernama "suami". Begitulah nasib perempuan!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More