GOLPUT ATAU ENGGAK YA?

Tahun 2014 datang menjelang, di tahun itu saya akan kembali memilih pemimpin dan wakil saya di dewan. Saya sadar, lima tahun lalu saya memilih pemimpin yang salah, demikian juga wakil-wakil saya di dewan. Mereka tak seperti yang saya harapkan.

PENGAMAT VS JOKOWI

Sebaik apa pun Jokowi, sang Gubernur Jakarta, tetap saja tak bebas kritikan dan hujatan, terutama dari lawan-lawan politiknya. Kalau dari lawan politiknya sih menurut saya wajar kritikan itu terlontar, selain dia bersikap oposisi terhadap Jokowi, dia juga harus mencari-cari segala kelemahan Jokowi.

TAK ADA MANUSIA YANG JAHAT

Sampai sekarang saya masih sangat yakin, manusia itu sebenarnya tak ada yang jahat. Mereka bisa hidup dengan segala kebaikannya. Hanya saja, setiap manusia memiliki pengalaman yang berbeda selama proses kehidupan mereka berlangsung.

ARIEL, DULU DIHUJAT KINI DIPUJA

Saat kasus video mesum Ariel dengan dua seleb wanita lain merebak di seantero Nusantara ini, Ariel pun menjadi bulan-bulanan media. Tak ada media yang tak mem-blow-up berita Ariel. Semua sumber informasi di seputar kehidupan Ariel disorot tajam setajam silet.

RENTENIR ZAMAN ANDROID

Rentenir dari zaman rikiplik memang gak ada matinya, gimana mau mati wong dari bisnis pinjaman uang itu saja bisa buat si rentenir kaya mendadak, uang yang semula cuma 100 bisa jadi 1000, yang tadi 1000 bisa menjadi 10.000, demikian seterusnya.

Showing posts with label movie-freak. Show all posts
Showing posts with label movie-freak. Show all posts

Friday, June 25, 2010

BETAPA PUITISNYA FILM KITA

Tahun 80-an, usiaku baru menginjak remaja. Waktu itu ada beberapa judul film Indonesia yang sampai sekarang masih kuingat. "Sejuta Serat Sutra" merupakan salah satu judul yang paling kuingat. Judulnya cukup puitis ya, tapi maknanya sulit dimengerti. Ada juga "Di Balik Kelambu", baca judulnya saja membuat interpretasiku macam-macam. Yang tentu semuanya negatif, pikirku kala itu, pasti isi filmnya adegan ranjang semua, wuih, ternyata tidak, malah jalan ceritanya bagus. "Bukan Impian Semusim", judul ini nih yang buat aku jadi tambah bingung, susah dimaknai.

Adegan "Di Balik Kelambu"

Namun di antara ke semua judul puitis film 80-an itu, ada satu yang tak pernah kulupa, "Ranjang Pengantin", judulnya bukan puitis tapi kalau dibuat menjadi sebuah judul puisi pasti menarik dan sangat puitis, karena bisa dinterpretasikan ke beragam macam. Sebenarnya "Ranjang Pengantin" bukan masuk era 80, tapi tahun 70-an. Aku baru melihatnya sekitar tahun 80-an, apalagi film itu sering diputar ulang di acara "Film Cerita Akhir Pekan" jaman TVRI berjaya dulu, jadi kuanggap film itu masuk era 80. Film ini nih yang benar-benar film panas, sepanas hatiku ketika pertama kali menyaksikannya.

Bayangkan, adegan di pinggir pantai antara Slamet Rahardjo bareng Lenny Marlina cukup berani untuk ukuran film jaman itu. Film ini tak melulu adegan panas-panasan, alur ceritanya cukup bagus dan tragis. Ceritanya begini nie ....

Bram (Slamet Rahardjo) berasal dari keluarga di bagian kota yang kumuh. Perkawinannya dengan Nona (Lenny Marlina) tanpa restu orang tua Nona, karena Nona sudah dijodohkan dengan Paul (George Kamarullah). Suami-istri ini hidup dengan gaji Bram yang pas-pasan bersama Nien (Mieke Wijaya) seorang perawan tua kakak Bram. Sementara hubungan mereka dengan Nien kurang intim. Bram terkena sakit paru-paru, tetapi mamaksakan diri untuk bekerja terus. Nona mencoba meringankan beban keluarga dengan menerima jahitan dari Lili (Christine Hakim), istri muda pemilik bengkel tempat Bram bekerja. Hubungan ini memperuncing konflik keluarga. Akhirnya Bram bunuh diri dengan mengerat urat nadi tangannya dan meninggalkan sepucuk surat untuk Nona.

Adalagi film "Titian Serambut Dibelah Tujuh", judul yang paling bagus menurutku. Kalau diartikan secara eksplisit memang tak masuk di akal. Tapi ada makna yang tersembunyi di judul itu (makna implisit). Kalau maknanya sendiri banyak diartikan sebagai "titian yang lebarnya serambut dibelah tujuh, menuju ke sorga, di bawahnya neraka. Jadi, hanya orang-orang tertentu yang bisa lolos". Namun film ini tak berkisah tentang jembatan antara sorga dan neraka itu, ia berkisah tentang seorang guru yang datang ke sebuah kampung dan berusaha membawa perubahan di kampung tersebut, tapi ia tidak disukai oleh penduduk setempat. Mereka kemudian berusaha menyingkirkannya dengan tuduhan usaha pemerkosaan terhadap seorang gadis. Sementara itu, seorang warga yang dianggap alim menuduh seorang gadis muda sebagai tidak bermoral setelah gadis itu menolak rayuannya. Seorang ustadz yang sedang mengunjungi desa itu kemudian berusaha mengungkap kemunafikan masyarakat kampung tersebut.

Adegan "Titian Serambut Dibelah Tujuh"

Masih banyak judul-judul lain yang mengandung makna puitis dan sulit dinterpretasikan kalau tak melihat filmnya. Ada "Kabut Sutra Ungu", "Kerikil-Kerikil Tajam", "Secangkir Kopi Pahit", "Pelangi di Balik Awan", "Doea Tanda Mata", "Hatiku Bukan Pualam", dan Serpihan Mutiara Retak, masih ada yang mau menambahkan?


Adegan "Doea Tanda Mata

Monday, April 5, 2010

HACHIKO: Arti Sebuah Kesetiaan

Ternyata anjing itu lebih setia daripada manusia. Manusia masih mempertimbangkan untung dan rugi untuk menjaga kesetiaannnya. Tak banyak yang bisa diharapkan dari kesetiaan model ini. Banyak kita temukan istilah-istilah yang menyatakan ketaksetiaan manusia (yang selalu dinotabenekan sebagai bentuk pengkhianatan) tersebut, mulai dari "Pagar makan tanaman", "Musuh dalam selimut", hingga "Makan teman sendiri".

Berbeda dengan Hachikō, yang dijuluki sebagai Anjing yang Setia, kesetiaannya ia bawa sampai mati. Hachikō yang lahir pada tanggal 10 November 1923 dan mati pada 8 Maret 1935 adalah seekor anjing jantan jenis Akita Inu kelahiran Ōdate, Prefektur Akita. Berkat kesetiaannya, ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikan.


Kisah Hachikō baru-baru ini diadaptasi ke sebuah film Hollywood, judulnya "Hachiko: A Dog Story". Film ini cukup mengharu-biru dan menguras emosi, meski tak cengeng, apalagi picisan. Kesetiaan Hachiko bisa dirasakan dalam flm tersebut. Sebelumnya juga pernah difilmkan di Jepang dengan judul "Hachikō Monogatari" karya sutradara Seijirō Kōyama yang mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Sebuah drama spesial tentang Hachikō pun ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita).


Dalam kisah sebenarnya, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.

Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo. Hachi tak tahu kalau majikannya itu sudah meninggal, ia terus menunggu dan menunggu.


Kesetiaan Hachikō diabadikan dalam sebuah patung perunggu yang berbentuk dirinya dan diletakkan di depan stasiun Shibuya. Patung ini akan selalu mengingatkan kita akan arti sebuah kesetiaan, Hachikō terhadap majikannya, dan Anda terhadap ....


Tuesday, February 23, 2010

MULTIKULTURALISME UPIN DAN IPIN

Siapa yang tak kenal Upin dan Ipin. Film kartun buatan negeri jiran - Malaysia itu mampu menyedot perhatian penonton anak-anak Indonesia, bahkan orang dewasa juga. Gara-gara film kartun itu, logat Malaysia menjadi populer di kalangan masyarakat kita. Gara-gara film itu juga dendam kesumat kita terhadap negeri melayu yang kita tuduh maling itu sirna sudah. Tak ada yang mau memboikot dua anak comel* itu. Bagi yang belum kenal mereka, parah! Kemana aja kamu selama ini, asyik nonton drama Century ya.


Upin dan Ipin adalah sebuah film animasi anak-anak yang dirilis pada tanggal 14 September, 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9, hasil produksi Les' Copaque. Awalnya, film ini bertujuan untuk mendidik anak-anak agar menghayati bulan Ramadhan. Namun selanjutnya berkembang menjadi kisah-kisah yang lebih universal tentang kebersamaan dalam pergaulan dan keseharian, terutama di kalangan anak-anak. Meski temanya biasa, tapi penggarapannya yang luar biasa.

Film ini tak terjebak dengan kata-kata yang menggurui, semua ditampilkan apa adanya, termasuk karakter tokoh-tokohnya. Tak ada yang tampil sempurna dalam kehidupan tokoh-tokohnya itu. Mereka bisa berbuat salah seperti layaknya manusia. Beda dengan tema-tema di film kita, umumnya lebih bersifat menggurui. Parahnya lagi, setiap tokoh protagonis selalu digambarkan super baik, super sabar, meski ditindas habis-habisan. Sebaliknya, tokoh antagonis selalu digambarkan super jahat, suka menindas, dan selalu menang di awalnya. Di akhir cerita, pasti ketebak, si protagonis menang dan menjadi senang, atau kaya, sedangkan si antagonis hidupnya susah, bertobat, atau mati. That's our movie theme, generally.

Kembali lagi pada si Upin dan Ipin. Film animasi itu mampu menampilkan keberagaman suku bangsa dalam kondisi apa adanya. Ada Rajoo yang berdarah India, ada Mei Mei keturunan Cina, dan ada Ihsan dan Mail orang Melayu asli. Mereka tampil tanpa meninggalkan atribut kesukuannya. Memang keberagaman tak harus disembunyikan, setiap anak harus dikenalkan sejak dini bahwa mereka memang berbeda satu sama lain, terutama dalam kehidupan multikultural dalam masyarakat mereka. Dari situ akan tercipta saling menghargai di antara mereka, sejak dini.


* yang artinya adalah cute, menggemaskan

Monday, December 21, 2009

AVATAR: GAMBARAN MASA DEPAN BUMI

AVATAR, tak hanya menakjubkan dari aspek visual effect maupun sound effect-nya, namun sampai detail adegan pun tak bosan untuk diikuti. Bersyukurlah pada kemajuan teknologi visual saat ini, yang bisa menghidupkan imajinasi para sineas 'gila' seperti James Cameron. Melalui tangan 'gila'nya, AVATAR sungguh enak untuk dinikmati (makanan kalee, enak dinikmati).

Kita disuguhi dengan adegan dan aksi-aksi menakjubkan, yang paling seru ketika suku bangsa Na'vi, penduduk asli Planet Pandora, harus berperang melawan manusia yang ingin menguasai planetnya.

Pertempuran antara keduanya digarap apik dan menakjubkan, seperti terjadi dalam artian sesungguhnya. Percampuran antara adegan nyata dan animasi hampir tak terasa sama sekali, semua terlihat nyata dan alami. Wajar kalau di Oscar 2010 mendatang, Avatar bisa mendapatkan Best Visual Effect, Sound Effect, dan Best Editing (ini prediksiku lho).

Film yang bersetting tahun 2154 ini menggambarkan tentang Planet Bumi yang sudah tak mampu lagi menyediakan sumber daya alam yang dibutuhkan manusia, seperti minyak bumi dan mineral-mineral penting yang sangat dibutuhkan untuk menopang hidup manusia. Bumi sudah demikian miskinnya dan tidak memiliki apapun untuk menunjang kehidupan manusia di planet biru tersebut. Beruntung manusia menemukan Planet Pandora yang masih alami dan memiliki sumber daya alam melimpah yang sangat dibutuhkan.

Untuk mendapatkan sumber daya alam ini manusia harus menaklukkan Suku Bangsa Na'vi, sebagai penduduk asli dan pemilik Planet Pandora, dan harus mengeksplorasi planet tersebut. Hal ini berarti harus merusak Planet Pandora. Suku bangsa Na'vi yang bergantung dan hidup menyatu dengan alam ini tentu tak akan sudi menerima tindakan eksplorasi tersebut. Pertempuran divisualkan begitu nyata dan meyakinkan, two thumbs-lah pokoknya.

Manusia begitu beringas untuk menjajah Planet Pandora. Mereka tak sadar, Bumi yang rusak dan tak terpakai lagi akibat tangan-tangan jahil mereka sendiri. Kehidupan dalam film Avatar akan makin nyata di masa depan bila manusia tak segera sadar untuk menyelamatkan Planet Bumi dari kerusakan dan kehancuran.

Monday, September 28, 2009

Being Joko Anwar

Tulisan ini terinspirasi dari judul film “Being John Malkovich”, film yang berkisah tentang Craig Schwart (John Cusack) dan Lotte Schwart (Cameron Diaz), pasangan suami-istri yang menemukan dan mengalami perjalanan pintu gerbang sejenis lorong waktu menuju alam pikiran John Malkovich/JM (diperankan langsung oleh John Malkovich). Selama 15 menit berada di JM, mereka bisa melihat, mendengar, dan merasakan apapun yang dilakukan JM.

Bagaimana kalau kita berada di alam pikiran Joko Anwar? Barangkali kita bisa mengalami seperti yang dialami pasangan suami-istri Schwart. Mengapa harus Joko Anwar, kenapa bukan sutradara lain seperti Teguh Karya, Syumanjaya, atau Slamet Rahardjo, yang lebih senior ketimbang Joko.

Dipilih Joko Anwar karena dia cukup unik. Unik dalam artian lain daripada yang lain, seperti: jadi pemberitaan karena berani tampil bugil di minimarket Circle-K Bintaro, demi memenuhi janjinya di Twitter, bila mendapat 3.000 pengikut (Follower); disebut-sebut sebagai pembuat film noir* pertama dari Indonesia untuk film “Kala”; dan film-filmnya banyak mendapat penghargaan, terakhir film “Pintu Terlarang” memenangkan penghargaan tertinggi sebagai film terbaik di Puchon International Fantastic Film Festival tahun 2009, yang berarti Joko telah mendapat pengakuan internasional.

Kalau faktor kedekatan sih enggak juga. Aku kenal Joko Anwar cuma dari film-filmnya, baca tentang dia di media, cuma sebagai follower-nya di Twitter, anggota pertemanannya di fesbuk (Facebook maksudnya), bekas tetangga beberapa blok/gang waktu di Medan, dan mantan seniornya waktu di SD dan SMP meski gak pernah saling kenal (so weird).

Tapi entah kenapa, aku begitu yakin Joko bakalan bisa berdiri di panggung Oscar suatu saat nanti, menyampaikan speech untuk Indonesia, bahkan duduk bersanding bersama my favorite directors: Steven Spielberg, Martin Scorsese, dan Francis Ford Coppola (mungkin ini cita-cita Joko juga). Joko memang belum pantas disejajarkan dengan ketiga sutradara fenomenal tadi, namun melihat kiprahnya sekarang, who knows, suatu saat nanti, maybe, itupun kalau dia terus serius menekuni profesinya sekarang, kecuali kalau dia pengen beralih jadi penari striptease seperti film “Boogie Nights” (semoga enggaklah, dijauhkan).

Pertama kali tahu Joko, saat nonton film “Arisan!”, di situ dia sebagai penulisnya, dan tampil sebagai comeo di film itu juga. Sangkin sukanya, aku nonton film itu berkali-kali. Berawal dari situ aku mulai penasaran sama Joko Anwar, tapi don’t worry gak sampai terobsesi seperti dalam film “Number One Fan” kok, apalagi sampai jatuh cinta.

“Being Joko Anwar” hanya satu keinginan untuk mengetahui dan mengupas isi kepalanya Joko Anwar, yang bisa membuat cerita film menjadi semakin unik. Kalau gak percaya tonton saja Arisan! (2003) (penulis), Janji Joni a.k.a. Joni's Promise (judul Inggris) (2005) (penulis/sutradara), Jakarta Undercover (2007) (penulis), Kala (2007) (penulis/sutradara), Quickie Express (2007) (penulis), Fiksi (2008) (penulis), dan Pintu Terlarang/The Forbidden Door (judul Inggris) (2009) (penulis/sutradara). Meski film-film yang kusebutkan tadi (mungkin) terinspirasi dari film-film lain, namun Anda tetap akan manggut-manggut tanda setuju.


* Film noir adalah sebuah istilah sinematik yang digunakan untuk menggambarkan gaya film Hollywood yang menampilkan drama-drama kriminal, khususnya yang menekankan keambiguan moral dan motivasi seksual. Periode film noir klasik Hollywood biasanya dianggap merentang dari awal 1940-an hingga akhir 1950-an. Film noir dari masa ini dihubungkan dengan gaya visual hitam-putih dalam pencahayaan yang rendah yang berakar dalam sinematografi ekspresionis Jerman.

Friday, September 18, 2009

Penculikan Miyabi

Ketika Miyabi buka toko lingerie di Indonesia, tiga orang mahasiswa menculik Miyabi karena terobsesi dengan kecantikannya. Miyabi berdarah campuran Jepang, Perancis, dan Kanada. Wajahnya yang cantik dan eksotis itu membuatnya cepat terkenal, dan membuat ketiga mahasiswa itu terobsesi dan menculiknya. Siapa Miyabi?

Bagi yang senang nonton film bokep (triple x, BF) pasti sudah tak asing lagi dengan Miyabi. Okelah bagi yang belum tau akan kuperkenalkan: Miyabi adalah artis film porno papan atas di Jepang. Dia tinggal di apartemen mewah dengan nilai sewa Rp 16 juta per bulan. Miyabi atau Maria Ozawa lahir pada 8 Januari 1986.

Dia memulai kariernya sebagai model untuk situs shirouto-teien (Sl), yang menghasilkan banyak set fotografi dan 2 video gonzo hardcore. Sl secara rutin merilis satu video Miyabi per bulannya. Miyabi juga tampil dalam banyak video kompilasi Sl pada acara AV Open 2006, yakni sebuah kompetisi antarstudio film biru Jepang yang bertujuan untuk mengetahui, studio mana yang bisa memproduksi video dengan penjualan tertinggi.

Kasus penculikan Miyabi di atas merupakan penggalan dari cerita film "nonbiru" yang berjudul Menculik Miyabi. Penulis naskah sekaligus pemeran utama film tersebut dilakoni Raditya Dika (masih ingatkan dengan novel grafis dan film Kambing Jantan). Menurut Radit, film tersebut bebas dari kevulgaran meski yang menjadi bintangnya adalah aktris film panas.

Mendengar nama Miyabi, apalagi mau main film di Indonesia, sudah pasti menimbulkan polemik dan penolakan, meski aku yakin yang menerima dengan tangan terbuka lebar pasti banyak juga (termasuk aku, jujur ajalah). Penolakan (pasti) datang dari MUI (Majelis Ulama Indonesia), alasannya akan merusak citra Indonesia dan berpotensi mencemarkan nama Indonesia di mata negara lain. Bahkan Ustadz Yusuf Mansyur dengan berang menuding Miyabi sebagai perusak mental bangsa (inilah.com).

Terlepas dari semua kontroversi itu, film Menculik Miyabi pantas ditunggu, karena dalam film itu Miyabi melepas atribut kepornoannya, dan membuat penasaran, bagaimana aktingnya di luar film biru itu. Dan denger-denger lagi, film Menculik Miyabi akan siap dirilis Maxima Picture pada akhir 2009 mendatang.

Thursday, September 17, 2009

Laskar Pelangi Goes International


LASKAR PELANGI tak hanya menuai sukses di dalam negeri, di luar pun ternyata mampu unjuk gigi. Tak tanggung - tanggung, berbagai penghargaan internasional pun secara bertahap disabet film tersebut.

Sejak dibuat tahun 2008, LASKAR PELANGI telah meraih penghargaan internasional seperti The Golden Butterfly Award untuk kategori film terbaik di Internasional Festival of Films for Children and Young Adults di Hamedan, Iran. LASKAR PELANGI masuk nominasi kategori film terbaik di Berlin Internasional Film Festival 2009, pada Asian Film 2009 di Hong Kong, dan editor filmnya, yaitu W. Ichwandiardono menjadi nominator untuk kategori editor terbaik.

LASKAR PELANGI yang berkisah tentang perjuangan 10 anak Belitung untuk bersekolah itupun telah banyak diputar di berbagai negara di lima benua. LASKAR PELANGI baru saja diputar di Harare, Namibia, yang sebelumnya pernah diputar di Spanyol, Italia, Hongkong, Singapura, Jerman, lima kota di Amerika, empat kota di Australia dan Portugal, dan selanjutnya akan menjadi salah satu film yang diputar di Festival Film Internasional Fukuoka 2009, di Jepang.

Selain itu, ajang festival film internasional yang telah memutar LASKAR PELANGI antara lain: Barcelona Asian Film Festival 2009 di Spanyol, Singapore Internasional Film Festival 2009, 11th Udine Far East Film Festival di Italia, dan Los Angeles Asia Pacific Film Festival 2009 di Amerika Serikat. LASKAR PELANGI juga akan diputar di Pusan International Film Festival 2009 pada Oktober depan.

Namun, sungguh disayangkan, tak banyak media yang mengekspos prestasi film ini. Jadi, tak heranlah banyak yang tak tahu betapa hebatnya film nasional kita sekarang.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More